Showing posts with label Budi Daya. Show all posts
Showing posts with label Budi Daya. Show all posts

Tuesday, December 6, 2016

CARA SUKSES BUDIDAYA KELAPA HIBRIDA


Agar hasil produksi tanaman pohon kelapa ini berjalan maksimal maka pemilihan bibit kelapa pun juga harus di lakukan dengan sangat benar dan teliti. Salah satunya adalah kelapa hibrida yang di hasilkan dari persilangan antara kelapa genjah dengan kelapa varietas dalam. Bagi yang berminat untuk budidaya kelapa hibrida namun belum tahu bagaimana saja langkah awal yang harus di kerjakan maka simak informasi di bawah ini.

Cara Memilih Bibit BUDIDAYA KELAPA HIBRIDA
Pada budidaya kelapa hibrida, pemilihan bibit harus benar benar di perhatikan. Bibit hibrida haruslah unggul agar masa panen nanti buah kelapa dapat berbuah lebih cepat dan hasil buahnya pun menjadi optimal. Untuk persiapan benih dapat di lakukan dengan cara bertahap yaitu dalam waktu 5 - 12 bulan sebelum mendekati waktu masa tanam yang sudah di tentukan sebelumnya. Apabila bibit sudah berusia 5 - 8 bulan baru bibit dapat di pindahkan pada lahan tanam yang telah di sediakan sebagai lahan tumbuh kelapa hibrida.

baca juga artikel pertanian tentang kelapa


PANDUAN BUDIDAYA KELAPA HIBRIDA

Budidaya kelapa hibrida juga harus memperhatikan tekstur tanah, apabila tanah keras maka lubang yang di butuhkan juga harus berukuran besar dan apabila tanah ringan maka ukuran lubang yang di butuhkan juga relatife kecil. Sebelum menanam bibit maka dalam waktu 2 - 4 minggu, lubang tanah haruslah di beri campuran tanah gembur sebelumnya dan di beri pupuk organik sebanyak 20 kg. Kemudian bibit dapat di tanam dengan kedalaman sekitar 10 cm.

Berikutnya yang harus di lakukan pada budidaya kelapa hibrida yaitu pemeliharaan tanaman. Salah satu pengganggu yang dapat merusak tanaman adalah gulma terlebih pada tanaman pohon kelapa hibrida ini. Untuk itu pemeliharaan tanaman dengan cara membasmi gulma sangat di perlukan dalam waktu 2 bulan sekali dengan menggunakan ukuran radius 1 meter untuk tanaman pohon kelapa yang masih muda dan ukuran radius 2 meter untuk tanaman pohon kelapa yang sudah berusia dewasa. 

Pemupukan juga merupakan hal yang penting pada budidaya kelapa hibrida. Untuk pemeliharaan tanaman pohon kelapa ini hanya membutuhkan 2 kali pemupukan pada setiap tahunnya yaitu pada awal tanam dan pada akhir musim hujan saja. Untuk pupuk TSP di takar dalam jumlah 100 - 400 gr, Urea sebanyak 600 gr - 1 kg. Pupuk di berikan secara melingkar dengan menggunakan ukuran radius. Setelah semua tahap sudah selesai maka tinggal menunggu sampai tanaman pohon kelapa menghasilkan buah terbaiknya.

Saturday, November 19, 2016

CARA UNTUNG BANYAK BUDIDAYA GENJER


Genjer atau paku rawan ialah sejenis tumbuhan rawa yang sering dijumpai di daerah persawahan dan atau perairan yang dangkal. Biasanya Genjer hidup berdampingan dengan yang namanya eceng gondok. Genjer merupakan jenis tanaman yang tidak berkayu dimana tumbuh pada daera dataran rendah populasi dari genjer sangat baik. 

Umumnya dimasyarakat petani untuk menanam genjer pada lahan persawahan mereka atau bisa juga dengan menggunakan tanah bergambut dekat rawa- rawa. Lahan bergambut banyak diteliti dan mengandung unsur hara alamiah dari sisa - sisa pembusukan serat tanaman air. Serat itu yang menyebabkan menjadinya pupuk biokompos yang dapat menumbuhkan genjer. 

Genjer sangat diminati oleh masyarakat banyak dikarenakan kandungan yang terdapat pada genjer yakni setiap 100 gram genjer terdapat energi 39 kkal, protein 1,7 g, karbohidrat 7,7 g, kalsium 62 mg, posfor 33 mg serta zat besi 2,1 mg. Begitu juga pada daun dan bunganya dengan kandungan kardenolin, flavonoida serta polifenol.

CARA UNTUNG BANYAK BUDIDAYA GENJER

1. Pemilihan Bibit Genjer UnggulanDalam mendapatkan bibit tanam yang berkualitas dan baik, tentunya genjer didapatkan dari hasil cabutan genjer yang ada di perairan lain atau bisa juga dari mencabut beberapa tanaman muda yang ada dibagian akar dari tanaman genjer tua. Dalam proses pemilihan bibit, pilihlah bibit genjer yang terlihat dari luar bagus, dengan daun tidak rusak dan terhindar dari cacat organ tubuh itu merupakan prioritas utama dalam menghasilkan panen yang menguntungkan.


2. Pengolahan Lahan Tanam untuk GenjerPengelolaan lahan gambut yang akan ditanami genjer caranya hampir sama seperti di area sawah. Sebelum ditanami genjer, bajaklah rawa atau sawah dan dilakukan dengan memastikan ketercukupan air yang ada dilahan yang hendak dibajak / minimal ketinggian 10-15 cm. Pastikan saluran irigasi dengan tepat sasaran agar semua hamparan lahan terairi. begitu juga dengan lahan rawa tidak perlu diberi pupuk karena lahan rawa gambut telah memiliki pupuknya sendiri. Namun untuk di lahan sawah, sehari sebelum melakukan penanaman dilakukan penaburan pupuk yang berfungsi agar pertumbuhan genjer cepat berbunga dan menghasilkan helaian daun yang mudah daun seragam.


3. Penanam genjer di Lahan yang Siap TanamJika lahan telah siap untuk ditanami, pengolahan selanjutnya ialah tata cara menanam bibit genjer dimana dengan cara menekan bagian akar dari genjer dengan menggunakan jempol tangan secara perlahan diatas tanah gambut berlumpur sekitar 8-12 cm dalamnya. Jarak antar genjer sendiri sekitar 10-15 cm dan penanaman genjer boleh secara acak. Biasanya waktu yang bagus untuk menanam genjer pada saat sore hari di waktu 15.00 - 17.00 WIB dimana matahari telah mulai tenggelam supaya daun genjer tidak mudah layu dan mengurangi penguapan.


4. Perawatan Dasat Tanaman GenjerPerawatan dasar untuk budidaya genjer sangatlah mudah, tinggal menambahkan pupuk kandang / kompos di area lahan, pengaturan irigasi / saluran air, penyiangan gulma penggangu. Untuk pemberian pupuk bisa dilakukan saat usia genjer telah 20 hari dan pemberiannya dengan cara menyebar secara bebas secara menyeluruh. Sedangkan untuk pengairan irigasi sangat penting dijaga dan dilakukan karena tanaman genjer sangat menyukai tempat yang air ketercukupan, jika tidak akan membuat tanaman genjer mudah layu, daun akan menguning dan terjadinya dehidrasi. Lalu untuk penyiangan diperlukan untuk mencegah adanya kompetisi dalam pengambilan nutrisi. Penyiangan dilakukan dengan cara mencabut gulma sampai ke dalam akarnya.


5. Kegiatan Panen dan Pascapanen
Panen dari budidaya genjer ini dilakukan saat mencapai 2-3 bulan. Panen genjer dilakukan dengan 2 cara yaitu memetik bagian tangkai bunga dan bunganya ataupun mengambil batang herba serta daunnya. kegiatan panen bisa dilakukan setiap 3 - 4 hari sekali untuk memastikan tumbuhnya tunas batang genjer muda dan bunga genjer yang mulai kuncup ataupun mekar. kegiatan pascapanen ialah dengan mengalihfungsikan lahan yang telah digunakan untuk berbudidaya genjer dengan pengolahan kembali lahan.

Monday, November 14, 2016

PENYEBAB DAUN KERITING PADA TANAMAN CABAI


http://tipspetani.blogspot.com/2016/11/penyebab-daun-keriting-pada-tanaman.html


PENYEBAB DAUN KERITING PADA TANAMAN CABAI

Keriting daun yang disebabkan oleh trips.

Gejala keriting pada daun tanaman cabe sebagian besar disebabkan oleh hama trips. Gejala yang ditimbulkan oleh trips pada daun cabe adalah adanya daun keriting dengan bentukan lekukan menggulung ke atas. Biasanya serangan trips diikuti dengan gejala rontoknya bunga cabe.

Pada permukaan daun bagian atas biasanya juga terdapat lapisan mengkilap seperti perak. Hama tanaman ini sangat mudah dilihat kasat mata pada bunga-bunga tanaman cabe dan di dalam gulungan daun cabe, berbentuk kecil memanjang seperti semut hitam dengan warna ada yang hitam dan hijau. Binatang ini bisa bergerak cepat dan mudah meloncat.



Tungau menyerang tanaman cabe dengan memberikan gejala yang khas, yaitu daun yang terserang akan melengkung ke bawah dengan rapih. Serangan tungau biasanya terjadi pada daun yang ketiga sampai ke bawah. Jika daun yang menggulung dibuka dan diperhatikan secara teliti maka permukaan daun bagian bawah akan terdapat binatang yang sangat lembut sekali (selembut tepung) yang bergerak secara perlahan-lahan. Warna tungau pada permukaan daun biasanya hijau muda.
tanaman herbal dan manfaatnya


Virus pada tanaman cabe biasanya disebarkan oleh hama vektor myzus dan bermisia (kutu kebul). Jika virus menyerang pada tanaman cabe akan memberikan gejala yang bermacam-macam sesuai dengan jenis virusnya. Salah satu gejala yang diakibatkan oleh virus tanaman cabe adalah adanya daun tanaman cabe yang menggulung atau kita sebut keriting.

Keriting daun yang disebabkan oleh virus dapat dibedakan denga penyebab lain karena virus ini akan menyebabkan sebagian besar daun cabe menggulung. Hal ini berbeda dengan gejala yang diakibatkan oleh trip atau tungau yang akan menggulung tanaman cabe hanya daun bagian ujung saja. Gejala keriting daun oleh virus kadang-kadang juga diikuti oleh kerdilnya tanaman dan berubahnya warna daun.

Hal yang terpenting dalam kasus keriting daun adalah berkurangnya cairan tanaman , baik oleh akibat isapan hama thrips dan tungau atau pun karena daun tanaman yang kekurangan cairan akibat penguapan dan suplai air yang kurang mencukupi.

Gejala serangan ini banyak ditemukan pada musim kemarau, hal ini karena terjadi ledakan siklus hidup kutu daun. Jika kita tidak segera mengatasi serangan serangga ini maka tanaman kita tidak akan tumbuh normal. Dan jika dibiarkan tunas-tunas baru akan mati sehingga tanaman tidak dapat berproduksi dengan baik.

TIPS PENGENDALIAN HAMA DAUN KERITING PADA CABAI

1. Pengendalian secara kultur teknis,

Pengendalian ini dapat dilakukan dengan pergiliran tanaman atau tidak menanam cabai secara bertahap sepanjang musim.

2. Pengendalian secara kimia.

Adapun cara pengendalian secara kimiawi :
  • Penyemprotan insektisida winder 25 WP dosis 0,25 – 0,5 gram / liter, atau insektisida cair winder 100EC, dosis 0,5 – 1 ml / liter.
  • Pada tanaman muda Pemberian Furadan 3G untuk mengatasi kutu putih thrips pada daun.
  • Pada tanaman yang sudah cukup besar, Penyemprotan Nogos 50 EC, Azodrin 15 WSC, Nuracron 20 WSC, dengan dosis 2 – 3 ml / liter.
  • Pengendalian hama secara natural atau organic
Yang dilakukan dalam pengendalian ini : Bahan : 1 kg daun brotowali ( daun-daun yang pahit ), 10 sendok makan kapur, 1 kg kunyit, Cara Buat : ketiga bahan tadi ditumbuk dan diambil airnya lalu dicampur dengan air 30 – 50 liter. kemudian disemprot kedauan secara merata dengan stelan berkabut.

e). Mekanis
Pungut dan musnahkan kutu kebul (Bemisia) yang tampak

f). Kimiawi

Untuk mencegah resistensi penyemprotan dengan kimia digunakan pada saat hama diambang batas ekonomi. Pestisida kimia bisa menggunakan Actara yang berbahan aktif tiametoxam, Taldin 33EC yang berbahan aktif Bifentrin dan Abamektin yang bekerja dual fungsi yaitu kontak dan sistemik. Untuk mencegah dari resistensi bahan aktif bisa diselang dengan Marshal 200EC atau pestisida lain.

Pada serangan ringan, yellow trap efektif. Lantaran yang paling banyak tempat tinggalnya (inangnya) pada tanaman buncis dan terong maka harus tetap waspada jika disamping tanaman kita terdapat tanaman tersebut. Menanam jagung yang merupakan inang pemangsa alami kutu kebul ditepi hamparan bisa menjadi pilihan.

  • Sanitasi lingkungan dengan membersihkan gulma dilahan maupun disekitar lahan
  • Gunakan mulsa plastik hitam perak
  • Jarak tanaman jangan terlalu rapat
  • Kalau memungkinkan gunakan sprinkel untuk menyiram tanaman
  • Untuk keriting daun cabe yang disebabkan virus cegah dengan mengendalikan vektornya
  • Gunakan Natural PENTANA untuk menanggulangi Hama thrips dan tungau.
  • Ketika mengaplikasi pestisida tambahkanlah pupuk daun Greenstar untuk mempercepat pemulihan
  • Jika mersa selalu kesulitan mengendalikan keriting daun tanaman cabe maka hindari menanam cabe pada musim kemarau.
WAKTU PENCEGAHAN

Pencegahan keriting daun pada tanaman cabai

a). Awal tanam :
Furadan 3G, dosis 60 – 90 kg / Ha atau 2 sendok makan / 10 meter bujur sangkar.

b). Tanaman sudah tumbuh :
Curacorn 500 EC, Nudrin 215 WSC atauTukotion 500 EC, dosis 2-3 ml/liter.

c). Tanaman sudah cukup besar :
Nugos 50 EC, Azodrin 15 WSC, Nuracron 20 WSC. dosis 2-3 ml / liter.

d).selain penyakit keriting daun
penyakit lain dapat digunakan fungisida : Dihtane M45, Antracol, Cupravit, dosis : 2 – 3 ml / liter.Akhirnya dengan mengetahui terlebih dahulu serangan dan ciri-cirinya maka kita dapat mengantisipasinya sebelum menular kesemua tanaman kita. Kita pasti sepakat bahwa produktifitas yang tinggi akan menjadi tujuan utama kita, dengan cara melindungi tanaman kita dari hama penyakit tanaman. Semoga bermanfaat.


Tuesday, July 15, 2014

BUDIDAYA JAMUR MERANG SISTEM KARDUS


Jamur merang adalah salah satu jamur yang bisa di konsumsi dan peminat jamur ini pun tidak sedikit. Jamur ini bisa di masak dengan mie dan juga bisa dijadikan kuah. Pada umumnya, jamur ini banyak di budidayakan di daerah asia dan Indonesia termasuk salah satunya. Sesuai dengan namanya, jamur merang biasanya dibudidayakan pada merang atau jerami yang telah dijadikan kompos.

Budidaya jamur ini tergantung tidak sulit, panennya pun sudah bisa dilakukan terhadap tubuh buah yang belum sepenuhnya berkembang. Meski demikian tubuh jamur merang yang telah membuka payungnya juga masih bisa di konsumsi meski harganya akan cenderung lebih murah.

Pada tulisan kali ini, kita akan coba membahas cara budidaya jamur merang di dalam kardus. Pada umumnya jamur merang dibudidayakan pada merang ataupun jerami tetapi akhir-akhir ini penanaman jamur merang dilakukan di dalam kardus, hal ini dilakukan di wilayah perkotaan yang pada umumnya kesulitan mencari bahan baku merang dan lebih mudah mendapatkan kardus. Kardus juga mempunyai keunggulan lebih sebagai tempat pembudidayaan jamur merang, kelebihannya yaitu dengan hanya menyobek bagian kardus dan kemudian direndam dengan air kapur selama 5 hari, maka media kardus sudah siap dimasukkan ke dalam lumbung atau rak. Selain itu pembudidayaan jamur dengan kardus ini menghasilkan jamur yang lebih kenyal dan juga aroma yang lebih wangi dengan warna yang lebih putih.

Dan berikut adalah langkah-langkah dari memulai hingga memanen jamur merang. 

A. Persiapan Tempat Budidaya Jamur Merang

Yang pertama tentu saja pembuatan kumbungnya yang umumnya dibuat dari rangka bambu. Dinding juga bisa dibuat dari bambu atau bisa juga memakai plastik agar biayanya semakin murah sementara bagian atap bisa dibuat menggunakan rumbia. Ukuran kumbung yang paling ideal adalah 4 meter, panjang 6 meter, dan tinggi 3,5 meter dan di dalam lumbung tersebut dapat di isi 2 baris rak penanaman dengan panjang masing-masing rak 5 meter dengan lebar 80 cm dan juga terdiri dari 4-5 tingkat. Hal yang perlu di jaga di dalam kumbung yaitu temperatur suhunya yang berkisar 28-35 derajat celcius dan sebaiknya di pasang lampu agar bisa lebih menjaga suhunya.

B.Pembuatan Media Rak Dengan Ukuran 2 M2

Bahan yang digunakan adalah kardus dan juga ditambahkan dengan campuran-campuran lainnya, yaitu :

  • Pupuk NPK berfungsi sebagai unsur hara makro primer untuk merangsang pertumbuhan pada fase awal atau pertumbuhan vegetatif (misal : akar).
  • Petroganik
  • Dedak halus (makanan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan jamur)
  • Kapur untuk menetralisasi kampus
  • Tepung beras ketan
  • Bonggol pisang (akar pohon pisang)
  • Limbah sayuran dari tanaman kubis, bungkol, pecsai, caisin dan kangkung (bisa diminta di pasar karena di buang)
  • Arah sekam, sebagai pelapis akhir media (untuk menstabilkan suhu tempat tumbuh jamur)
Komposisi bahan yang diperlukan dalam sebuah rak dengan ukuran 2 M2, yaitu :

  • Bibit 5 botol
  • Kardus 20kg
  • Dedak halus 5kg
  • Kapur 5kg
  • Aram sekam 25kg
  • Bonggol pisang batu 5kg (atau bisa juga buncis)
  • Limbah sayur 10 karung
  • Pupuk NPK ¼ kg
  • Petroganik 1 kg

Hal-hal yang perlu dilakukan terhadap kardus sebelum proses penanaman.

  • Sobek kardus hingga ukurannya 5-10 cm
  • Rendam kardus dengan larutan kapur (5kg kapur dalam air hingga semua kardus habis terendam)
  • Bak kolam berukuran 4x6 m yang dibuat dari terpal plastik
  • Taburkan pupuk NPK (1/4) dalam rendama
  • Biarkan hingga 5 hari
  • Potong-potong bonggol pisang dan limbah sayuran hingga menjadi potongan kecil
  • Hancurkan bibit jamur dari botol, kemudian campurkan dengan beras ketan

Penanaman jamur merang
Ketika media atau tempat budidaya telah selesai dipersiapkan maka langkah selanjutnya adalah penanaman jamur merang,yaitu :

  • Taburkan sisa kapur sebagai dasar media
  • Tuangkan media kardus yang sudah ditiriskan ke atas rak atau kumbung (bentuk medianya menjadi gundukan (30x30cm) dengan tinggi 10 cm ) dan tiap rak berjejer dua baris gundukan.
  • Taburkan setengah bagian campuran limbah sayuran dan juga bonggol 
  • Lapisi kembali gundukan dengan media kardus setinggi 10cm, kemudian taburkan sisa dedak, bonggol pisang dan sayuran. Media tanam terdiri dari dua lapisan media.
  • Lakukan parteurisasi untuk mensterilkan media dan ruangan dalam kumbung. Dengan memasukkan uap panas (dengan suhu 60-70 derajat Celcius) selalma 6-8 jam. Saat proses parteurisasi kumbung di tutup rapat.
  • Turunkan suhu sampai 30 derajat celcius dengan membuka jendela kumbung.
  • Tanam bibit jamur di media (2 botol /2m). Sebagian bibit dibenamkan dalam gundukan media. Sisanya ditaburkan merata di atas seluruh permukaan media.
  • Taburi dengan arang sekam yang sudah dicampur dengan air dan pupuk organik biogan.
  • Tutup rapat media yang sudah ditanami dengan plastik transparan.
Pemeliharaan jamur merang
Untuk menjaga jamur merang agar mendapatkan hasil yang optimal, ada beberapa cara yang harus dilakukan seperti berikut :

  • Suhu ruangan harus dijaga 28-35 derajat Celcius.
  • Pada hari kelima, pukul 00.00, buka plastik penutup media dan jendela kumbung, kemudian semprot dengan 10 liter air cucian beras yang dicampur dengan 10 tutup biogan dengan bantuan hand sprayer.
  • Setiap hari plastik dibuka selama 10 menit untuk menjaga sirkulasi udara dan atur supaya pada jam 07.00-11.00 sinar matahari dapat masuk ke lumbung.

Paskapanen
Jamur sudah dapat dipanen pada saat usia jamur 10-14 hari sejak penanaman. Panen dapat dilakukan setiap harinya sampai tananan berumur sabulan. Sebaiknya jamur merang dipanen sebelum mekar yaitu pada saat kancing masih dalam tahap stadium telur agar mendapatkan harga yang lebih baik.

Monday, July 14, 2014

Proses dan Teknik Budidaya Jamur Tiram


Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) adalah jamur konsumsi dari kelompok Basidiomycota dan termasuk kelas Homobasidiomycetes dengan ciri-ciri umum tubuh buah berwarna putih hingga krem dan tudungnya berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung. Jamur tiram masih satu kerabat dengan Pleurotus eryngii dan sering dikenal dengan sebutan King Oyster Mushroom.


Cara Budidaya Jamur Tiram

Langkah awal yang perlu disiapkan


1. Ruang persiapan
Ruang persiapan adalah ruangan yang berfungsi untuk melakukan kegiatan Pengayakan, Pencampuran, Pewadahan, dan Sterilisasi.


2. Ruang Inokulasi
Ruang Inokulasi adalah ruangan yang berfungsi untuk menanam bibit pada media tanam, ruang ini harus mudah dibersihkan, tidak banyak ventilasi untuk menghindari kontaminasi (adanya mikroba lain).


3. Ruang Inkubasi
Ruangan ini memiliki fungsi untuk menumbuhkan miselium jamur pada media tanam yang sudah di inokulasi (Spawning). Kondisi ruangan diatur pada suhu 22 – 28 derajat C dengan kelembaban 60% – 80%, Ruangan ini dilengkapi dengan rak-rak bambu untuk menempatkan media tanam dalam kantong plastic (baglog) yang sudah di inokulasi.


4. Ruang Penanaman
Ruang penanaman (growing) digunakan untuk menumbuhkan tubuh buah jamur. Ruangan ini dilengkapi juga dengan rak-rak penanaman dan alat penyemprot/pengabutan. Pengabutan berfungsi untuk menyiram dan mengatur suhu udara pada kondisi optimal 16 – 22 derajat C dengan kelembaban 80 – 90%.


Peralatan Dan Bahan Budidaya Jamur Tiram


Peralatan : yang digunakan pada budidaya jamur diantaranya, Mixer, cangkul, sekop, filler, botol, boiler, gerobak dorong, sendok bibit, centong.
Bahan-bahan : yang digunakan dalam budidaya jamur tiram adalah Serbuk kayu, bekatul (dedak), kapur (CaCO3), gips (CaSO4), tepung jagung (biji-bijan), glukosa, kantong plastik, karet, kapas, cincin plastik.


Proses dan Teknik Budidaya Jamur Tiram


Dalam melaksanakan Budidaya Jamur Tiram ada beberapa proses dan kegiatan yang dilaksanakan antara lain:

1. Persiapan Bahan
Bahan yang harus dipersiapkan diantaranya serbuk gergaji, bekatul, kapur, gips, tepung jagung, dan glukosa.


2. Pengayakan
Serbuk kayu yang diperoleh dari penggergajian mempunyai tingkat keseragaman yang kurang baik, hal ini berakibat tingkat pertumbuhan miselia kurang merata dan kurang baik. Mengatasi hal tersebut maka serbuk gergaji perlu di ayak. Ukuran ayakan sama dengan untuk mengayak pasir (ram ayam), pengayakan harus mempergunakan masker karena dalam serbuk gergaji banyak tercampur debu dan pasir.


3. Pencampuran
Bahan-bahan yang telah ditimbang sesuai dengan kebutuhan dicampur dengan serbuk gergaji selanjutnya disiram dengan air sekitar 50 – 60 % atau bila kita kepal serbuk tersebut menggumpal tapi tidak keluar air. Hal ini menandakan kadar air sudah cukup.


4. Pengomposan
Pengomposan adalah proses pelapukan bahan yang dilakukan dengan cara membumbun campuran serbuk gergaji kemudian menutupinya dengan plastic.


5. Pembungkusan (Pembuatan Baglog)
Pembungkusan menggunakan plastik polipropilen (PP) dengan ukuran yang dibutuhkan. Cara membungkus yaitu dengan memasukkan media ke dalam plastik kemudian dipukul/ditumbuk sampai padat dengan botol atau menggunakan filler (alat pemadat) kemudian disimpan.


6. Sterilisasi
Sterilisasi dilakukan dengan mempergunakan alat sterilizer yang bertujuan menginaktifkan mikroba, bakteri, kapang, maupun khamir yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur yang ditanam. Sterilisasi dilakukan pada suhu 90 – 100 derajat C selama 12 jam.


7. Inokulasi (Pemberian Bibit)
Inokulasi adalah kegiatan memasukan bibit jamur ke dalam media jamur yang telah disterilisasi. Baglog ditiriskan selama 1 malam setelah sterilisasi, kemudian kita ambil dan ditanami bibit diatasnya dengan mempergunakan sendok makan/sendok bibit sekitar + 3 sendok makan kemudian diikat dengan karet dan ditutup dengan kapas. Bibit Jamur Tiram yang baik yaitu:
- Varitas unggul
- Umur bibit optimal 45 – 60 hari
- Warna bibit merata
- Tidak terkontaminasi


8. Inkubasi (masa pertumbuhan miselium) Jamur Tiram
Inkubasi Jamur Tiram dilakukan dengan cara menyimpan di ruangan inkubasi dengan kondisi tertentu. Inkubasi dilakukan hingga seluruh media berwarna putih merata, biasanya media akan tampak putih merata antara 40 – 60 hari.


9. Panen Jamur Tiram
Panen dilakukan setelah pertumbuhan jamur mencapai tingkat yang optimal, pemanenan ini biasanya dilakukan 5 hari setelah tumbuh calon jamur. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari untuk mempertahankan kesegarannya dan mempermudah pemasaran.